TrendBisnis – Remdesivir merupakan salah satu produk yang dikembangkan sebagai obat untuk pasien virus corona.
Bahkan, obat ini juga disebut-sebut dapat memberikan kemajuan dalam perawatan pasien Covid-19.
Obat ini memiliki spektrum antivirus yang luas dan efektif untuk keluarga virus Arenaviridae, Flaviviridae, Filoviridae, Paramyxoviridae, Pneumoviridae, dan Coronaviridae.
Selain itu, Remdesivir juga merupakan analog adenosin trifosfat yang menyasar enzim RNA-dependent RNA polymerase(RdRp) dari virus RNA. Enzim ini sangat dibutuhkan virus untuk memperbanyak diri.
Di dalam tubuh, nantinya remdesivir akan diubah menjadi bentuk aktif remdesivir triphosphateyang nantinya akan berikatan dengan enzim RdRp sehingga fungsinya terhambat dan virus tidak bisa berkembang biak.
Jika dipasarkan obat ini digolongkan sebagai obat keras. Artinya, obat ini hanya bisa diperoleh dengan resep dokter serta digunakan untuk penderita COVID-19 yang memerlukan rawat inap di rumah sakit.
Remdesivir tersedia diproduksi dalam dua bentuk sediaan untuk pemberian melalui selang infus, yakni larutan terkonsentrasi danlyophilized powder (bubuk). Setiap bentuk sediaan memiliki rekomendasi yang berbeda terkait penyimpanan, persiapan sebelum diberikan, dan cara pemberian.
Sementara bentuk larutan yang terkonsentrasi hanya boleh digunakan untuk pasien dewasa dan anak dengan berat badan ≥40 kg, sementara bentuk lyophilized powderdapat digunakan untuk pasien dewasa dan anak dengan berat badan ≥3,5 kg.
Idealnya, obat mulai diberikan dalam waktu 72 jam setelah terkonfirmasi positif untuk COVID-19.
Bagi pasien yang tidak memerlukan ventilasi mekanik (bantuan pernafasan) atau extracorporeal membrane oxygenation(ECMO), durasi pengobatan adalah 5 hari atau hingga diizinkan pulang dari rumah sakit, tergantung mana yang tercapai lebih dulu.
Bila pasien tidak membaik atau membutuhkan bantuan pernafasan khusus, durasi pengobatan dapat diperpanjang hingga 10 hari.
Perlu diingat, Remdesivir tidak boleh digunakan pada kasus alergi atau memiliki reaksi hipersensitivitas terhadap obat ini. Penggunaannya juga perlu berhati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal dan hati.
Selalu beritahukan dokter bila sedang menggunakan obat-obatan atau suplemen tertentu karena dapat berinteraksi dengan redemsivir. Karena obat ini dapat menimbulkan efek samping yang fatal, diantaranya:
- Bradikardia (detak jantung melambat) berat. Ini karena metabolit aktif remdesivir dapat memperlambat aliran listrik jantung.
- Gangguan fungsi hati ringan hingga sedang (derajat 1-2), ditandai dengan peningkatan kadar SGOT dan SGPT di dalam darah. Gangguan ini bersifat reversibel.
- Reaksi alergi atau hipersensitivitas berat, yang ditandai dengan sesak nafas, demam, hipotensi, menggigil, nafas berbunyi ‘ngik’, bengkak pada bibir, denyut jantung cepat.
Anies Pastikan SeluruhTenaga Pendidik Sudah Divaksin






