Trend Bisnis – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengemukakan, pemerintah menggunakan strategi penanganan berbeda dalam menghadapi gelombang Omicron yang diperkirakan berlangsung pada Februari 2022.
Hal itu disampaikan Menkes dalam keterangan pers secara virtual, seperti, Kamis (27/01/2022).
“Strategi pemerintah hadapi Omicron sedikit berbeda dengan Delta. Omicron keparahannya rendah, orang tanpa gejala dan gejala ringan, demam, dan batuk. Sebenernya bisa sembuh tanpa dibawa ke rumah sakit,” jelas Budi.
Budi mengatakan, Omicron memiliki ciri penyebaran penularan yang cepat serta menyebar secara luas.
“Dalam waktu singkat akan ada jumlah kenaikan yang tinggi,” tambah Budi.
Ciri berikut dari Omicron, menurut Budi, yaitu tingkat keparahan dan keterisian tempat tidur di rumah sakit relatif rendah.
Hal itu dikarenakan lebih banyak pasien yang terjangkit Omicron dirawat di rumah.
Sementara proses penyembuhan dibantu tim medis melalui layanan kesehatan secara digital.
“Karena kalau Delta keparahannya tinggi, kita siapkan rumah sakit,” ungkap Budi lebih lanjut.
Budi menyebutkan, hingga Rabu (26/01/2022), jumlah pasien yang dirawat di seluruh rumah sakit di Indonesia mencapai 7.688 orang dari total ketersediaan tempat tidur isolasi mencapai 80 ribu unit.
Sebanyak tiga pasien di antaranya dilaporkan meninggal dunia.
“Ini di bawah kapasitas tempat tidur isolasi yang masih bisa ditambah. Saat Juli 2021, Delta tinggi, kami bisa naikkan ke 120-130 ribu unit. Yang siap pakai saat ini berjumlah 80 ribuan dan terisi 7.688,” papar Budi.
Budi mengatakan, gelombang Omicron diperkirakan akan mencapai puncak pada akhir Februari atau awal Maret 2022 mendatang.





